Allah huakbar allah huakbar...
Kemudian hujan turun...
Saya memasuki sebuah kedai makanan, lalu langsung tertuju pada perempuan yang duduk di kursi pojok sebelah kanan.
Maaf,” kata perempuan itu sambil menatap saya. Saya diam dan mencoba menebak-nebak kalimat selanjutnya.
"Aku belum pesen makan buat kamu, kamu pasti belum buka puasa yah? nih minum batalin dulu puasanya"
Tebakan saya salah...
Di luar hujan terlihat sudah reda....
*15 kemudian*
Perempuan itu kembali berkata
“Maaf,” sambil menatap mata saya dalam-dalam. Saya kembali diam dan mencoba menebak-nebak kembali kalimat selanjutnya dengan tebakan yang persis sama dengan tebakan sebelumnya.
“Aku nggak bisa jadi pacar kamu lagi,” lanjutnya. Pelan, tapi sudah cukup untuk membuat kuping dan dada saya seperti meledak.
**Malam sebelumnya**
"..sekarang kamu maunya apa? Tanya perempuan itu dalam nada sember sebuah telepon"
"Maaf" Jawab saya dengan suara rendah nada bersalah.
"..Kalo kamu gini terus aku capek tau! ucap perempuan itu dengan sedikit terdengar suara tangisan.."
"... Maaf aku minta .. tut...tut.. tut" telpon terputus
***
Baik,” saya mengangguk tanpa banyak berkata-kata lagi, menaruh beberapa lembar puluhan ribu di atas meja, kemudian berjalan pergi tanpa menengok ke belakang. Sudah cukup jelas. Kali ini tebakan saya benar. Sesuai pertengkaran kecil semalam. Dia, – perempuan yang sampai semenit yang lalu masih jadi pacar saya itu – akhirnya memilih pergi. Dengan alasan sudah capek dengan sikap saya yang kekanak-kanakan.
***
Dua bulan kemudian di tempat yang sama..
Suasana sedang romantis-romantisnya sore ini. Hujan baru saja reda..
Perempuan yang dua bulan lalu memutuskan saya itu tersenyum dihadapan saya.
Tak berapa lama diluar terdengar suara dari speaker sember abang odong-odong mulai mengalun,
Tik tik tik.. Bunyi hujan di atas genting..
“Rindunya turun tidak terkira..” lanjut saya dalam hati"
***