Ta,
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu.
Kenapa alih-alih ngajak ketemuan, saya malah nulis surat kayak gini.
Jawabannya sama-sama kita tahu, Ta.
Saya capek berantem. Dan kamu mungkin lebih capek lagi.
Kalau kita ketemu dan ngomongin ini sekarang, yang kejadian malah berantem lagi, ribut lagi, diem-dieman lagi, dan gitu terus sampai kita nggak tahu kapan selesainya. Seperti yang sudah-sudah, namun berujung nggak sudah-sudah itu.
Ta,
Sudah berapa lama kita cuma menduga-duga, membiarkan hati dan pikiran kita bermain-main, kemudian akhirnya kita jadi begini-begini saja?
Saya disiksa prasangka sendiri, kamu dibakar cemburu nggak jelas.
Gitu terus. Nggak kelar-kelar..
Ta,
Saya sayang kamu. Banget.
Kamu cantik, kamu pinter, kamu keren, dan kamu adalah jawaban dari semua doa-doa saya. Kamu cita-cita terbesar saya. Mimpi saya. Rancangan masa depan saya.
Dan saya sangat beruntung karena kamu juga mau sama saya.
Tapi, Ta..
Kamu ingat, berapa kali saya dan kamu terus bertengkar cuma gara-gara dunia saya dan dunia kamu yang memang sangat jauh berbeda?
Nggak keitung kayaknya.
Pada awalnya saya mengira, semua bisa berubah seiring waktu. Saya pikir kamu (dan saya) akan berubah dan perlahan menyesuaikan satu sama lain. Saya belajar memahami dunia kamu, dan kamu belajar menerima dunia saya.
Tapi ternyata susah ya, Ta?
Cinta memang nggak semudah kalimat-kalimat puitisnya anak twitter.
Kalau diurutkan, semua pertengkaran kita bisa dijadikan 3 babak seperti ini:
1.Kamu cemburu
2.Semua alasan dan pembelaan saya jadi sia-sia
3.Kita ribut, berantem, diem-dieman, dan akhirnya memutuskan pisah. Alasannya selalu sama. Dunia saya dan kamu terlalu jauh berbeda.
Kita menyesal, balikan, kemudian kembali ke poin 1 lagi.
Dan nggak cuma itu, kekacauan ini masih ditambah dengan ketakutan-ketakutan saya yang sebenarnya nggak perlu.
Ketakutan nggak bisa bahagiain kamu lah.
Ketakutan nggak bisa ngimbangin kamu lah..
Ketakutan nggak bisa berdamai dengan masa lalu kamu lah..
Ketakutan kalau kamu nggak siap dengan dunia saya lah..
Cemburuannya kamu, ditambah ketakutan saya, ternyata memang senjata mematikan buat hubungan kita selama ini.
Sekarang, Ta. Ini bagian paling cemennya..
Dulu saya berpikir. Ada beberapa hal yang nggak bisa dipaksakan.
Mungkin kita salah satunya.
Pikiran itu juga yang ternyata membuat saya terlalu cepat menyerah, dan akhirnya berujung pada kita yang begini-begini saja.
Tapi sekarang saya sadar. Ada juga beberapa hal yang sangat layak diperjuangkan.
Kita salah satunya.
Ta,
Saya minta maaf. Kita pacaran lagi yuk..
Saya nggak akan banyak berjanji kali ini. Basi aja kalau surat ginian juga masih ditutup pake janji.
Kita pacaran lagi, kita mulai dari awal lagi.
Gimana?
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu.
Kenapa alih-alih ngajak ketemuan, saya malah nulis surat kayak gini.
Jawabannya sama-sama kita tahu, Ta.
Saya capek berantem. Dan kamu mungkin lebih capek lagi.
Kalau kita ketemu dan ngomongin ini sekarang, yang kejadian malah berantem lagi, ribut lagi, diem-dieman lagi, dan gitu terus sampai kita nggak tahu kapan selesainya. Seperti yang sudah-sudah, namun berujung nggak sudah-sudah itu.
Ta,
Sudah berapa lama kita cuma menduga-duga, membiarkan hati dan pikiran kita bermain-main, kemudian akhirnya kita jadi begini-begini saja?
Saya disiksa prasangka sendiri, kamu dibakar cemburu nggak jelas.
Gitu terus. Nggak kelar-kelar..
Ta,
Saya sayang kamu. Banget.
Kamu cantik, kamu pinter, kamu keren, dan kamu adalah jawaban dari semua doa-doa saya. Kamu cita-cita terbesar saya. Mimpi saya. Rancangan masa depan saya.
Dan saya sangat beruntung karena kamu juga mau sama saya.
Tapi, Ta..
Kamu ingat, berapa kali saya dan kamu terus bertengkar cuma gara-gara dunia saya dan dunia kamu yang memang sangat jauh berbeda?
Nggak keitung kayaknya.
Pada awalnya saya mengira, semua bisa berubah seiring waktu. Saya pikir kamu (dan saya) akan berubah dan perlahan menyesuaikan satu sama lain. Saya belajar memahami dunia kamu, dan kamu belajar menerima dunia saya.
Tapi ternyata susah ya, Ta?
Cinta memang nggak semudah kalimat-kalimat puitisnya anak twitter.
Kalau diurutkan, semua pertengkaran kita bisa dijadikan 3 babak seperti ini:
1.Kamu cemburu
2.Semua alasan dan pembelaan saya jadi sia-sia
3.Kita ribut, berantem, diem-dieman, dan akhirnya memutuskan pisah. Alasannya selalu sama. Dunia saya dan kamu terlalu jauh berbeda.
Kita menyesal, balikan, kemudian kembali ke poin 1 lagi.
Dan nggak cuma itu, kekacauan ini masih ditambah dengan ketakutan-ketakutan saya yang sebenarnya nggak perlu.
Ketakutan nggak bisa bahagiain kamu lah.
Ketakutan nggak bisa ngimbangin kamu lah..
Ketakutan nggak bisa berdamai dengan masa lalu kamu lah..
Ketakutan kalau kamu nggak siap dengan dunia saya lah..
Cemburuannya kamu, ditambah ketakutan saya, ternyata memang senjata mematikan buat hubungan kita selama ini.
Sekarang, Ta. Ini bagian paling cemennya..
Dulu saya berpikir. Ada beberapa hal yang nggak bisa dipaksakan.
Mungkin kita salah satunya.
Pikiran itu juga yang ternyata membuat saya terlalu cepat menyerah, dan akhirnya berujung pada kita yang begini-begini saja.
Tapi sekarang saya sadar. Ada juga beberapa hal yang sangat layak diperjuangkan.
Kita salah satunya.
Ta,
Saya minta maaf. Kita pacaran lagi yuk..
Saya nggak akan banyak berjanji kali ini. Basi aja kalau surat ginian juga masih ditutup pake janji.
Kita pacaran lagi, kita mulai dari awal lagi.
Gimana?